Malam pertama tentukan kualitas kehidupan seks mendatang

Posted by Unknown Jumat, 18 Januari 2013 0 komentar


Malam pertama tentukan kualitas kehidupan seks mendatang

Tampaknya, melakukan hubungan seksual pertama kali sangat penting hingga memiliki imbas yang besar bagi psikologis seseorang, ungkap peneliti.

Penelitian bernama 'Gone But Not Forgotten' ini adalah penelitian pertama yang melihat kaitan antara malam pertama dengan kualitas kehidupan seks seseorang di masa mendatang. 

Mereka menyebutkan bahwa orang yang merasa dicintai dan dihormati oleh pasangan pada malam pertama akan memiliki kehidupan seks yang lebih memuaskan.

Hasil ini ditemukan ilmuwan Amerika setelah melakukan survei pada 331 pria dan wanita muda. Mereka ditanya mengenai perasaan yang mereka alami ketika kehilangan keperjakaan atau keperawanan. Perasaan tersebut termasuk rasa takut, tertekan, bersalah, menyesal, atau perasaan positif.

Mereka juga ditanya mengenai perasaan terkoneksi dengan pasangan ketika melakukan malam pertama. Apakah mereka merasakan dicintai dan dihargai atau malah sebaliknya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang merasa puas secara seksual di malam pertama mereka akan memiliki kehidupan seks yang menyenangkan dan berkualitas, serta memuaskan di kehidupan seks mereka ke depannya.

"Ini menunjukkan bahwa malam pertama bukan ajang coba-coba atau sekedar batu loncatan. Pengalaman melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya adalah hal yang penting dan bisa mempengaruhi kehidupan seksual seseorang di tahun-tahun mendatang," ungkap peneliti Carries Smith, seperti dilansir oleh Daily Mail (12/01).

Dia juga menyebutkan bahwa pengalaman melakukan hubungan seks pertama kali mampu menciptakan bentuk pemikiran dan perilaku tertentu yang secara tak sadar digunakan manusia untuk memandu kehidupan seksual mereka. Semakin bahagia dan puas seseorang di malam pertama, semakin baik juga kehidupan seksual mereka di masa mendatang.

Sumber: merdeka.com
Read More..

MAKALAH ASPEK BUDAYA BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN IBU

Posted by Unknown Selasa, 15 Januari 2013 0 komentar




MAKALAH
ASPEK BUDAYA BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN IBU

Di susun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD)
Dosen pembimbing: Rahayu Fuji Lestari,S.ST








Disusun oleh:kelompokVII

Alfi Suci Putriyanti (02)
Anis Yulita (04)
Ayu Pristy Wahyuningtyas (06)
Evi Yulistiana Oktavianti (11)
Izzaumal Hikmah (19)
Lailatul Hasaniyah (20)
Meilina Huzaimah (25)
Rani Bharokatul Maulidiya (32)
Siti Khotijah (40)
Sri Astutik (42)
Susmiati (46)


UNIVERSITAS ISLAM MADURA
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2010-2011

 

KATA PENGANTAR

Dengan  menyebut  nama  Allah  Yang   Maha   Pengasih   lagi   Maha Penyayang, Alhamdulillahirobbilalamin berkat limpahan rahmat-Nya sehingga makalah yang berjudul  “Aspek Budaya Berhubungan Dengan Kesehatan Ibu” dapat terwujud sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD). 
         Dalam penelitian ini, penulis tidak hanya bekerja sendiri. Tanpa bantuan dari semua  pihak,  tidak  mungkin  makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Ibu Rahayu Fuji Lestari,S.ST selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak masukan, baik yang bersifat teori maupun praktik.
  2. Teman-teman yang selalu memberikan motivasi dan semangat sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang diharapkan

Atas segala bantuannya baik secara  moral,  material, maupun   spiritual penulis mengucapkan terima kasih.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis   menyadari    kesalahan,   kelemahan,   bahkan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran  yang  bersifat  membangun sangat diharapkan agar dapat  dijadikan  acuan  dalam  penulisan makalah  periode berikutnya.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Atas  bantuan dari  semua  pihak  penulis mengucapkan  terima  kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Pamekasan, 23 Maret  2011

                                                                                                                             
                                                                                                               Penulis


 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………...ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….iii
BAB I   PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH……………………………………………1
B.     RUMUSAN MASALAH………………………………………………………..2
C.    TUJUAN……………………………………………………………………….....2

BAB II    PEMBAHASAN
A.    PENEGERTIAN KEBUDAYAAN……………………………………………..3
B.     KEBUDAYAAN  YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN IBU..6
C.    PENDEKATAN MELALUI BUDAYA DAN KEGIATAN KEBUDAYAAN KAITANNYA DENGAN PERAN SEORANG BIDAN...................................13

BAB III   PENUTUP
A.    KESIMPULAN………………………………………………………………....15
B.     SARAN………………………………………………………………………..…16
DAFTAR USTAKA…………………………………………………………………………….17




BAB I
PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG MASALAH
Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak prasekolah sehat.
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia selalu menjadi masalah pelik yang tak kunjung membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Situasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan menggembirakan.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan.
Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia  (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklampsia. Kedua sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih tetap rendah, di mana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.Usia kehamilan pertama ikut berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak (SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun.SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan pelayanan kontrasepsi.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas     umum.
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan pada daerah dan   tahun   tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu,didaerahtertentu. Konstanta= 1000 bayi lahir hidup.

B.      RUMUSAN MASALAH

1.      Apa saja kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada ibu hamil, nifas dan bersalin?
2.      Apa yang dilakukan bidan untuk mengatasi presepsi kebudayaan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dimasyarakat?

C.    TUJUAN
  • Untuk mengetahui kebudayaaan yang ada pada masyarakat mengenai kesehatan ibu dan cara bidan menanggulangi masalah tersebut



BAB II
PEMBAHASAN

A.             Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan atau yang disebut peradapan ; adalah pemahaman yang meliputi : pengetahuan, kepercayaan , seni, moral, hukum, adat istiadat yang diperoleh dari anggota masyarakat ( Taylor 1997 )
Pendapat umum sesuatu yang baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat. ( Bakker 1984 ).
Pola tingkah laku mantap : pikiran, perasaan, dan reaksi yang diperoleh dan terutama diwujudkan oleh simbul-simbul  pada pencapaian tersendiri dari kelompok manusia yang bersifat universal ( Kroeber & klukhon  1950 ).
Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “ budayah “ /  “ bodhi “  yang berarti budi akal atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal.  Budaya dapat dipisahkan sebagai kata majemuk Budi & Daya yang berupa : cipta , rasa, karsa, karya  (kuncoroningrat 1980 ).

Jenis-jenis kebudayaan di Indonesia

a.       Kebudayaan Modern
            Kebudayaan modern biasanya berasal dari manca negara datang di Indonesia merupakan budaya/ kesenian import. Budaya modern akting, penampilan, dan kemampuan meragakan diri  didasari sifat komersial.  Budaya modern lebih mengesampingkan  norma , gaya menjadi idola masyarakat dan merupakan target sasaran  Contoh : film, musik jazz.


b. Kebudayaan Tradisional
            Bersumber dan berkembang dari daerah setempat. Penampilan mengutamakan norma dengan mengedepankan intuisi bahkan bersifat  bimbingan 
Dan petunjuk tentang kehidupan manusia. Kebudayaan tradisional kurang mengutamakan komersial dan sering dilandasi sifat kekeluargaan. Contoh : Ketoprak, wayang orang, keroncong, ludruk.

c. Budaya Campuran
            Budaya campuran pada hakekatnya merupakan campuran budaya modern dengan budaya tradisional yang berkembang dengan cara asimilasi ataupun defusi. Kebudayaan campuran sudah memperhitungkan komersiel tapi masih mengindahkan norma dan adat setempat. Contoh : Musik dangdut, orkes gambus, campur sari.

B.               Kebudayaan  Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Ibu

Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan.
Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian. Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lain-lain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.
Baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, fakta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.
Membicarakan mengenai mitos dan fakta seputar kehamilan maupun kelahiran memang tidak akan pernah ada habisnya. Mitos telah menjadi adat istiadat yang bersifat turun temurun dari orang tua kita terdahulu, menjadi suatu hal yang biasa dan sangat mereka yakini.

Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan tidak layak untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos yang dapat dinalar, diterima oleh akal dan ternyata ada faktanya. Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita mengulas soal mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui faktanya!
Berikut kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada ibu hamil, nifas dan bersalin:

1.      Kebudayaan bagi wanita hamil :
Berbagai kelompok masyarakat di berbagai tempat yang menitik beratkan perhatian mereka terhadap aspek kultural dari kehamilan dan menganggap peristiwa itu sebagai tahapan-tahapan kehidupan yang harus dijalani didunia.Masa kehamilan dan kelahiran dianggap masa krisis yang berbahaya,baik bagi janin atau bayi maupun bagi ibunya karna itu sejak kehamilan sampai kelahiran para kerabat dan handai-tolan mengadakan serangkaian upacara baggi wanita hamil dengan tujuan mencari keselamatan bagi diri wanita itu serta bayinya,saat berada di dalam kandungan hingga saat lahir.
Orang jawa adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sering menitikberatkan perhatian pada aspek krisis kehidupan dari pertistiwa kehamilan,sehingga di dalam adat-istiadat mereka terdapat berbagai upacara adat yang cukup rinci untuk menyambut kelahiran bayi.Biasanya upacara dimulai sejak usia ketujuh bulan kandungan ibu sampai pada saat kelahirannya,walaupun ada pula sebagian kecil warga masyarakat yang telah melakukannya sejak janin di kandungan ibu berusia tiga bulan.upacara –upacara adat jawa yang bertujuan mengupayakan keselamatan bagi janin dalam prosesnya menjadi bayi hingga saat kelahirannya itu adalah upacara mitoni,procotan dan brokohan.
Sebagian masyarakat jawa juga percaya bahwa bayi yang lahir pada usia tujuh bulan mempunyai peluang untuk hidup,bahkan lebih kuat daripada bayi yang lahir pada usia kehamilan delapan bulan,walupun kelahiran itu masih prematur.Kepercayaan ini tampak terdapat pula pada sejumlah suku bangsa di indonesia dan malaysia(ladderman1987:86).Karna itu orang jawa menganggap usia tujuh bulan kandungga sebagai saat yang penting,sehingga perlu dilakukan upacara yang disebut mitoni untuk menyambutnya dan menangkal bahaya yang mungkin timbul pada masa itu.Upacara mitoni yang umumnya hanya dilakukan pada kehamilan pertama dari seorang wanita,sebenarnya dapat pula berfungsi untuk memberikan ketenangan jiwa bagi calon ibu yang belum pernah mengalami peristiwa melahirkan.
Upacara mitoni dilakukan dengan cara memandikan sang calon ibu dengan air bunga,yang biasanya dilakukan oleh orangtua pasangan suami-istri yang sedang menantikan bayinya,ditambah sejumlah kerabat sepupuh terdekat atau sepupuh yang dihormati Selanjutnya diadakan upacara memecah buah kelapa bergambar wayang dengan tokoh dewa kamajaya dan dewi ratih oleh sang calon ayah,yang sebelumnya dimasukan ke dalam sarung yang dikenakan oleh si calon ibu ketika dimandikan,mulai dari ujung sarung pada batas menyentuh tanah.Namun sebelum menyentuh tanah,sang calon ayah harus bisa menagkap buah kelapa itu pada ujung sarung dekat kaki istrinya.Upacara ini dimkasudkan agar kelak proses kelahiran bayidapat berjalan lancar dan bayi yang akan lahir tampan atau cantik seprti dewa dan dewi tersebut. Rangkain upacara mitoni pada dasarnya melambangkan harapan baik bagi sang bayi,yakni harapan agar ia sempurna dan utuh fisiknya,tampan atau cantik wajahnya,dan selamat serta lancar kelahirannya.
Upacara procotan dilakukan dengan membuat sajian jenang procot yakni bubur putih yang dicampur dengan irisan ubi.Upacara procotan khusus bertujuan agar sang bayi mudah lahir dan rahim ibunya.
Brokohan adalah upacara sesudah lahirnya bayi dengan selamat dengan membuat sajian nasi urap dan telur rebus yang diedarkan pada sanak kluarga untuk memberitahukan kelahiran sang bayi. Pusat perhatian orang jawa mengenai pelaksanaan upacara pada masa kehamilan dan kelahiran terletak pada unsur tecapainya keselamatan,yang dilandasi atas keyakinan mengenai krisis kehidupan yang mengandung bahaya dan harus ditangkal,serta harapan akan kebaikan bagi janin dan ibunya.Maka upacara kelahiran seringkali  tidak dilaksanakan dalam bentuk kenduri besar dengan mengundang banyak handai-taulani.
Selain  di jawa di Setiap daerah juga mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda dikalangan masyarakat terhadap kesehatan ibu. Berikut budaya yang ada di beberapa daerah  terhadap kesehatan ibu hamil :

1.         Jawa Tengah :
Bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan  mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
2.         Jawa Barat :
 Ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
3.         Masyarakat Betawi :
Berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
4.         Daerah Subang :
            Ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah.Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo,1993).

2.      Kebudayaan ibu bersalin
Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang terwujud dalam perilaku berkaitan dengan kebudayaan ibu bersalin yang berbeda, dengan konsepsi kesehatan modern. Beberapa hal yang dilakukan oleh masyarakat pada ibu bersalin:

a)      Minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas.

Memang, rumput Fatimah bisa membuat mulas pada ibu hamil, tapi apa kandungannya belum diteliti secara medis. Rumput fatimah atau biasa disebut Labisia pumila ini, berdasarkan kajian atas obat-obatan tradisional di Sabah, Malaysia, tahun 1998, dikatakan mengandung hormon oksitosin yang dapat membantu menimbulkan kontraksi. Tapi, apa kandungan dan seberapa takarannya belum diteliti secara medis. Jadi, harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum meminumnya. Karena, rumput ini hanya boleh diminum bila pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm, letak kepala bayi sudah masuk panggul, mulut rahim sudah lembek atau tipis, dan posisi ubun-ubun kecilnya normal. Jika letak ari-arinya di bawah atau bayinya sungsang, tak boleh minum rumput ini karena sangat bahaya. Terlebih jika pembukaannya belum ada, tapi si ibu justru dirangsang mulas pakai rumput ini, bisa-bisa janinnya malah naik ke atas dan membuat sesak nafas si ibu. Mau tak mau, akhirnya dilakukan jalan operasi.

b)      Meluarnya lendir semacam keputihan yang agak banyak menjelang persalinan, akan membantu melicinkan saluran kelahiran hingga bayi lebih mudah keluar.
Ini tak benar! Keluarnya cairan keputihan pada usia hamil tua justru tak normal, apalagi disertai gatal, bau, dan berwarna. Jika terjadi, segera konsultasikan ke dokter. Ingat, bayi akan keluar lewat saluran lahir. Jika vagina terinfeksi, bisa mengakibatkan radang selaput mata pada bayi. Harus diketahui pula, yang membuat persalinan lancar bukan keputihan, melainkan air ketuban. Itulah mengapa, bila air ketuban pecah duluan, persalinan jadi seret.

c)       Minum minyak kelapa memudahkan persalinan.

Minyak kelapa, memang konotasinya bikin lancar dan licin. Namun dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama sekali dalam melancarkan persalinan. Mungkin secara psikologis, ibu hamil menyakini, dengan minum dua sendok minyak kelapa dapat memperlancar persalinannya. Jika itu demi ketenangan psikologisnya, maka diperbolehkan, karena minyak kelapa bukan racun.
d)     Minum madu dan telur dapat menambah tenaga untuk persalinan.

Madu tak boleh sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-nya cukup, sebaiknya jangan minum madu karena bisa mengakibatkan overweight. Bukankah madu termasuk karbonhidrat yang paling tinggi kalorinya? Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-nya kurang. Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya segera hentikan. Demikian juga dengan telur, pada dasarnya selama telur itu matang maka tidak akan berbahaya bagi kehamilan. Hal ini disebabkan karena telur banyak mengandung protein yang dapat menambah kalori tubuh.

e)      Makan duren, tape, dan nanas bisa membahayakan persalinan.

Ini benar karena bisa mengakibatkan perndarahan atau keguguran. Duren mengandung alkohol, jadi panas ke tubuh. Begitu juga tape serta aneka masakan yang menggunakan arak, sebaiknya dihindari. Buah nanas juga, karena bisa mengakibatkan keguguran.


f)        Makan daun kemangi membuat ari-ari lengket, hingga mempersulit persalinan.

Yang membuat lengket ari-ari bukan daun kemangi, melainkan ibu yang pernah mengalami dua kali kuret atau punya banyak anak, misal empat anak. Ari-ari lengket bisa berakibat fatal karena kandungan harus diangkat. Ibu yang pernah mengalami kuret sebaiknya melakukan persalinan di RS besar. Hingga, bila terjadi sesuatu dapat ditangani segera.


3.      Kebudayaan ibu nifas.
Macam-macam mitos yang ada pada msyarakat mengenai ibu nifas diantaranya:
  1. Tidak boleh bersenggama
Dari sisi medis, jelas dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS, sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuh- an jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula. Selain karena fungsi hormonal tubuh yang bersang- kutan belum kembali aktif bekerja. Kalau sanggama dipaksakan terjadi dalam tenggang waktu itu, kemungkinan yang terjadi bisa macam-macam. Di antaranya infeksi atau malah perdarahan. Sebabnya, mukosa jalan lahir setelah persalinan sangat peka akibat banyaknya vaskularisasi/aliran darah, hingga terjadilah perlunakan mukosa jalan lahir. Dengan berjalannya waktu, vaskularisasi ini kian berkurang dan baru akan normal kembali 3 bulan setelah bersalin. Belum lagi libido yang mungkin memang belum muncul ataupun pengaruh psikologis, semisal kekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.


  1. Kaki harus lurus
Menurut Koesmariyah, baik saat berjalan maupun berbaring, kaki harus lurus. Dalam arti, kaki kanan dan kiri enggak boleh saling tumpang tindih ataupun ditekuk. Selain agar jahitan akibat robekan di vagina tak melebar ke mana-mana, juga dimaksudkan supaya aliran darah tetap lancar alias tak terhambat. Secara medis, posisi kaki yang lurus memang lebih menguntungkan karena membuat aliran darah jadi lancar. Sedangkan mobilisasi secara umum, pada dasarnya boleh dan malah harus dilakukan. Makin cepat dilakukan kian menguntungkan pula. Dengan catatan, kondisi si ibu dalam keadaan baik, semisal tak mengalami perdarahan atau kelainan apa pun saat melahirkan. Selain patokan bahwa dalam 8 jam pertama setelah melahirkan ia sudah bisa BAK dan BAB serta selera makannya bagus. Begitu juga tensi, denyut nadi, dan suhu tubuhnya dalam batas normal. Soalnya, jika tak bisa BAK dan BAB berarti ada sesuatu yang enggak beres yang akan berpengaruh pada kontraksi dan proses involusi (pengecilan kembali) rahim.
  1. Tidak boleh tidur siang
Pantangan yang satu ini kedengarannya keterlaluan. Bayangkan, meski ngantuk setengah mati lantaran sering terbangun malam hari karena harus menyusui dan menggantikan popok si kecil, si ibu tak boleh tidur siang. Menurut Chairulsjah, tidur berkepanjangan memang mengundang proses recovery yang lebih lambat. "Makin lama berbaring makin besar pula peluang terjadi tromboemboli atau pengendapan elemen-elemen garam." Lalu bila si ibu bangun/berdiri mendadak, endapan elemen tersebut dikhawatirkan lepas dari perlekatannya di dinding pembuluh darah. Padahal akibatnya bisa fatal, lo. Endapan-endapan tadi bisa masuk ke dalam pembuluh darah lalu ikut aliran darah ke jantung, otak dan organ-organ penting lain yang akan memunculkan stroke.


  1. Tak boleh keramas
Pantangan yang satu ini dicemaskan bisa membuat si ibu masuk angin. Itu sebab, sebagai gantinya rambut cukup diwuwung, yakni sekadar disiram dengan air dingin. Lagi-lagi, penyiraman ini diyakini agar darah putih bisa turun dan tak menempel di mata. Namun agar tak bau apek dan tetap harum disarankan menggunakan ratus pewangi. Tentu saja pantangan semacam itu untuk kondisi jaman sekarang dirasa memberatkan. Terlebih untuk ibu-ibu yang harus sering beraktivitas di luar rumah. Sedangkan mandi boleh-boleh saja asal dilakukan jam 5 atau 6 untuk mandi pagi dan sebelum magrib untuk mandi malam. Penggunaan air dingin, katanya, justru lebih baik ketimbang air hangat karena bisa melancarkan produksi ASI.
  1. Hindari makan jemek
Golongan makanan yang harus dijauhi adalah pepaya, durian, pisang, dan terung. Karena konon ragam makanan tadi bisa dikhawatirkan bikin benyek organ vital kaum Hawa. Termasuk makanan bersantan dan pedas karena pencernaannya bakal terganggu yang bisa berpengaruh pada bayinya. Begitu juga ikan dan telur asin serta makanan lain yang berbau amis karena dikhawatirkan bisa menyebabkan bau anyir pada ASI yang membuat bayi muntah saat disusui. Selain juga, proses penyembuhan luka-luka di jalan lahir akan lebih lambat.
Secara medis, menurut Chairulsjah, tak benar anggapan untuk pantang pepaya dan pisang yang justru amat dianjurkan karena tergolong sumber makanan yang banyak mengandung serat untuk memudahkan BAB. Ikan dan telur juga merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik dan amat dibutuhkan tubuh. Sedangkan durian memang tak dianjurkan karena kandungan kolesterolnya tinggi, selain memicu pembentukan gas yang bisa mengganggu pencernaan.


  1. Tidak boleh berpergian
Kalau dipikir-pikir larangan ini, bertujuan supaya si ibu tak terlalu letih beraktivitas. Kalau capek bisa-bisa ASI-nya berkurang. Kasihan si kecil. Karena biasanya seumur ini sedang kuat-kuatnya menyusu. Belum lagi kemungkinan si bayi rewel ditinggal ibunya terlalu lama. Sementara kalau diajak pun masih kelewat kecil. Malah takut ada apa-apa di jalan, terutama kalau menggunakan angkutan umum. Bepergian pun membuat si ibu jadi tak tahan menghadapi aneka godaan untuk menyantap segala jenis makanan yang dipantang.

C.             PENDEKATAN MELALUI BUDAYA DAN KEGIATAN KEBUDAYAAN KAITANNYA DENGAN PERAN SEORANG BIDAN

Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.
Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut. Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran serta tanggung jawabnya.
Melihat dari luasnya fungsi bidan tersebut, aspek sosial-budaya perlu diperhatikan oleh bidan. Sesuai kewenangan tugas bidan yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya, telah diuraikan dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IX/1980 yaitu: Mengenai wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem pemerintahan desa dengan cara:



a.       Menghubungi pamong desa untuk mendapatkan peta desa yang telah ada pembagian wilayah
pendukuhan/RK dan pembagian wilayah RT serta mencari keterangan tentang penduduk dari masing-masing RT.
b.      Mengenali struktur kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, LSM, karang taruna, tokoh masyarakat, kelompok pengajian, kelompok arisan, dan lain-lain.
c.       Mempelajari data penduduk yang meliputi:
·         Jenis kelamin
·         Umur
·         Mata pencaharian
·         Pendidikan
·         Agama
d.      Mempelajari peta desa
e.       Mencatat jumlah KK, PUS, dan penduduk menurut jenis kelamin dan golongan.
Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara efektif, bidan harus mengupayakan hubungan yang efektif dengan masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan hubungan yang efektif adalah komunikasi. Kegiatan bidan yang pertama kali harus dilakukan bila datang ke suatu wilayah adalah mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat.

Kemudian seorang bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
Dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan tradisional setempat bidan dapat berperan aktif untuk melakukan promosi kesehatan kepada masyaratkat dengan melakukan penyuluhan kesehatan di sela-sela acara kesenian atau kebudayaan tradisional tersebut. Misalnya: Dengan Kesenian wayang kulit melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan kesehatan yang ditampilkan di awal pertunjukan dan pada akhir pertunjukan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Faktor-faktor sosial-budaya mempunyai peranan penting dalam memahami sikap dan prilaku menanggapi kehamilan dan kelahira.Sebagian pandangan budaya mengenai hal-hal tersebut telah diwariskan turun-temurun dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.Oleh karna itu, meskipun petugas kesehatan mungkin menemukan suatu bentuk prilaku atau sikap yang terbukti kurang menguntungkan bagi kesehatan,seringkali tidak mudah bagi mereka untuk mengadakan perubahan terhadapnya,akibat telah tertanamnya keyakinan yang melandasi sikap dan prilaku itu secara mendalam pada kebudayaan warga komuniti tersebut.
Kajian antropologi mengenai kehamilan dan kelahiran bagi wanita dengan segala konsekuensi baik dan buruknya terhadap kesehatan ini perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi para personil kesehatan di indonesia  dalam upaya meningkatkan keberhasilan pelayanan kesehatan yang mereka terapkan bagi ibu.Khususnya,pemahaman yang menyeluruh dan utuh terhadap berbagai pandangan,sikap dan prilaku kehamilan dan kelahiran dalam konteks budaya masyarakat yang bersangkutan,sangat diperlukan bagi pembentukan strategi-strategi yang lebih tepat dalam melakukan perubahan yang diinginkan.
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.
Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut. Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran serta tanggung jawabnya. Agar bidan dapat menjalankan praktik atau pelayanan kebidanan dengan baik, hendaknya bidan melakukan beberapa pendekatan misalnya pendekatan melalui kesenian tradisional.
B. Saran
a)      Saat ibu sedang hamil muda ( 1 sampai 3 bulan ) tidak melakukan pekerjaan yang berat karena dapat menyebabkan keguguran pada janin .
b)      Selalu mengkonsumsi makan yang banyak mengandung vitamin A , D , E , K.
c)      Selalu rutin  untuk memeriksakan kandungan kepada tim medis ( dokter kandungan atau bidan ) .
d)     Bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat wilayah kerjanya, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.

















DAFTAR PUSTAKA

F.Swasono,Meutia.(1998).Kehamilan,Kelahiran, Perawatan Ibu Dan Bayi Dalam konteks Budaya. Jakarta:Salemba 4.
Read More..

Total Tayangan Laman